Konsorsium Jurnalisme Aman: Serangan terhadap Andrie Yunus adalah Ancaman bagi Demokrasi

Pernyataan Sikap
Konsorsium Jurnalisme Aman: Serangan terhadap Andrie Yunus adalah Ancaman bagi Demokrasi

Ilustrasi Penyiraman

Serangan penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Kamis malam (12/3) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, bukan sekadar tindak kriminal biasa. Peristiwa ini adalah ancaman terhadap demokrasi dan bentuk teror yang menyasar kerja-kerja advokasi serta suara kritis di ruang publik.

Berdasarkan informasi yang beredar, Andrie Yunus diserang oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor dan menyiramkan cairan kimia berbahaya saat ia melintas di Jalan Salemba I sekitar pukul 23.37 WIB. Serangan itu menyebabkan luka bakar serius pada wajah, mata, dada, dan tangan korban, dengan tingkat luka mencapai sekitar 24 persen.

Peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Andrie menyelesaikan rekaman siniar di kantor YLBHI yang membahas isu remiliterisasi dan cial review Undang-Undang TNI. Rangkaian kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa serangan tersebut berkaitan dengan kerja-kerja advokasi yang selama ini dijalankan korban.

Konsorsium Jurnalisme Aman memandang serangan ini sebagai peringatan keras bagi kondisi demokrasi Indonesia.

Dalam beberapa waktu terakhir, intimidasi terhadap suara kritis tidak hanya menyasar pembela HAM, tetapi juga media. Teror berupa pengiriman kepala babi kepada kantor redaksi Tempo beberapa waktu lalu menjadi contoh nyata bagaimana ancaman dan intimidasi digunakan untuk menekan kerja jurnalistik dan kebebasan berekspresi.

Jika rangkaian peristiwa ini dilihat secara utuh, terlihat pola yang mengkhawatirkan: mereka yang selama ini bekerja di garis depan pengawasan kekuasaan, baik jurnalis maupun pembela HAM, semakin rentan terhadap intimidasi dan kekerasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan terhadap jurnalis, pembela HAM, dan masyarakat sipil memang terus berulang. Polanya nyaris serupa: pelaku tidak jelas, penyelidikan berlarut, dan publik dibiarkan menunggu tanpa kepastian.

Ketika kekerasan seperti ini terjadi berulang tanpa penyelesaian yang transparan, pesan yang muncul sangat jelas:

siapa pun yang bersuara kritis bisa menjadi target.

Situasi ini berbahaya bagi demokrasi. Ruang publik yang sehat hanya dapat tumbuh jika mereka yang memperjuangkan kepentingan warga, baik jurnalis maupun pembela HAM, dapat menjalankan perannya tanpa rasa takut.

Pertama, Kepolisian Republik Indonesia untuk mengusut tuntas pelaku dan aktor di balik serangan ini secara cepat, transparan, dan akuntabel.

Kedua, negara harus memastikan perlindungan yang nyata bagi pembela HAM, jurnalis, dan masyarakat sipil yang bekerja di isu-isu kepentingan publik.

Ketiga, pemerintah perlu menunjukkan komitmen serius bahwa kekerasan terhadap pembela HAM tidak akan ditoleransi.

Serangan terhadap Andrie Yunus tidak boleh dipandang sebagai peristiwa kriminal biasa. Ini adalah serangan terhadap keberanian untuk bersuara.

Temuan Indeks Keselamatan Jurnalis (IKJ) 2025 juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: meningkatnya serangan terhadap jurnalis di berbagai wilayah Indonesia, yang diikuti dengan meningkatnya praktik swasensor di ruang redaksi. Ketika intimidasi dan kekerasan dibiarkan, jurnalis sering kali memilih menahan atau membatasi liputan demi keselamatan.

Serangan terhadap Andrie Yunus berpotensi memperluas dampak tersebut, tidak hanya di kalangan jurnalis, tetapi juga di kalangan organisasi masyarakat sipil. Ketika pembela HAM diserang karena kerja-kerja advokasinya, rasa takut yang muncul dapat mendorong praktik swasensor di ruang advokasi, yang pada akhirnya melemahkan kontrol publik terhadap kekuasaan.

Dan jika teror seperti ini dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya satu orang, melainkan ruang demokrasi itu sendiri.

Jakarta, 13 Maret 2026
Konsorsium Jurnalisme Aman
(Yayasan Tifa, Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara/PPMN, dan Human Rights Working Group/HRWG)

Kontak:

Arie Mega
[email protected]
Project Officer Yayasan Tifa untuk Jurnalisme Aman
[email protected]
Communication Officer Yayasan Tifa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top